Perdagangan Internasional

Gejolak Perdagangan Ancam Pertumbuhan Kanada & Meksiko

Theblackmoregroup – Gejolak Perdagangan yang dipicu oleh kebijakan tarif tinggi dari Presiden AS Donald Trump diprediksi akan menekan pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan inflasi. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya memperkirakan bahwa Kanada dan Meksiko akan mengalami dampak terbesar akibat tarif yang diberlakukan secara ketat terhadap mereka. Bahkan, pertumbuhan ekonomi AS sendiri juga diperkirakan akan melemah akibat kebijakan ini.

OECD telah memangkas drastis proyeksi pertumbuhan Kanada untuk tahun ini dan tahun depan. Sementara itu, Meksiko diperkirakan akan mengalami resesi, menandakan dampak serius dari kebijakan perdagangan yang semakin ketat.

“The Silent Threat: How Noise is Harming Our Health”

Tarif Tinggi dan Respons Global

Gejolak Perdagangan semakin memanas setelah AS memberlakukan tarif 25% terhadap impor baja dan aluminium. Selain itu, AS juga menetapkan tarif 25% untuk beberapa barang impor dari Meksiko dan Kanada, dengan beberapa pengecualian, serta bea masuk sebesar 20% terhadap produk-produk dari China. Sebagai balasan, Kanada dan Uni Eropa telah mengumumkan penerapan tarif balasan terhadap AS.

OECD mengungkapkan bahwa peningkatan hambatan perdagangan serta ketidakpastian kebijakan dan geopolitik telah menekan investasi dan belanja rumah tangga. Hal ini memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi bagi banyak negara yang terdampak oleh kebijakan tarif AS.

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Gejolak Perdagangan

Gejolak Perdagangan terus berlanjut dengan berbagai implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. OECD dalam laporan terbarunya memperkirakan:

  • Kanada hanya akan tumbuh sebesar 0.7% tahun ini dan pada 2026, turun dari prediksi sebelumnya sebesar 2% untuk kedua tahun tersebut.
  • Meksiko diprediksi akan mengalami kontraksi 1.3% tahun ini dan menyusut lebih lanjut sebesar 0.6% tahun depan. Berbanding terbalik dengan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan 1.2% dan 1.6%.
  • Amerika Serikat juga mengalami revisi ke bawah dalam pertumbuhan ekonominya, dengan proyeksi 2.2% tahun ini dan 1.6% pada 2025. Turun dari perkiraan awal sebesar 2.4% dan 2.1%.
  • Meskipun AS menerapkan tarif pada China, OECD justru meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 4.8%.

OECD memperingatkan bahwa perang dagang yang terus berkembang akan memicu inflasi lebih tinggi. Yang pada akhirnya dapat menyebabkan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. “Risiko signifikan masih ada,” tulis OECD dalam laporannya, sambil menyoroti bahwa fragmentasi ekonomi global menjadi perhatian utama.

Dengan ketegangan perdagangan yang terus meningkat, pertumbuhan ekonomi global diprediksi akan melambat dari 3.2% pada 2024 menjadi 3.1% pada 2025. OECD menegaskan bahwa peningkatan tarif perdagangan yang lebih luas akan berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi dunia dan memperburuk inflasi secara global.

“Jalur Mudik Aman, Harga Pangan Stabil! Instruksi Wamendagri”